SULBAR, BKM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Perkebunan resmi menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit untuk periode Januari 2026. Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Hotel Berkah, Mamuju, Selasa (13/1), harga TBS bagi pekebun mitra disepakati berada di angka Rp3.092,15 per kilogram.

​Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Muh. Faizal Thamrin, didampingi Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Agustina Palimbong. Penetapan harga ini merupakan bagian dari misi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga untuk mendorong ekonomi inklusif di sektor perkebunan.

​”Kami berharap hasil kesepakatan hari ini dapat dirasakan dampak positifnya oleh masyarakat, terutama bagi para petani sawit yang telah menjalin kemitraan,” ujar Faizal Thamrin dalam sambutannya.

​Meskipun angka penetapan tersebut membawa angin segar secara administratif, realita di lapangan masih menyisakan kekhawatiran bagi para petani. Muncul keluhan terkait efektivitas pengawasan pemerintah terhadap operasional pabrik kelapa sawit (PKS) yang seringkali menerapkan harga berbeda secara sepihak.

​Ansari, salah satu warga sekaligus petani sawit di Sulbar, mengungkapkan rasa skeptisnya. Menurutnya, penetapan harga tinggi tidak akan berarti banyak tanpa pengawasan yang nyata di pintu-pintu pabrik.

​”Selalu saja terdengar penetapan harga, tapi tidak ada pengawasan ke pabrik. Harga pabrik naik turun terus, tidak stabil mengikuti ketetapan,” keluh Ansari.

​Para petani berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada seremoni penetapan harga di hotel, tetapi juga aktif melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan. Selisih harga antara ketetapan pemerintah dengan harga beli pabrik seringkali menjadi beban yang harus dipikul petani swadaya maupun mitra.

​Menanggapi hal tersebut, Dinas Perkebunan menegaskan bahwa ketetapan harga ini merupakan standar yang harus dipatuhi oleh perusahaan mitra untuk menjamin kesejahteraan petani dan menjaga iklim investasi yang sehat di Sulawesi Barat.(Zulkifli)