MAMUJU, BKM – Jika banyak yang membayangkan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu kaku dan penuh tekanan, maka Dapur SPPG Mamuju – Sampaga Bunde justru menawarkan cerita berbeda. Cerita tentang keluarga.

Di sebuah meja kerja sederhana dengan latar dinding biru, duduk Muhammad Irsyad, Kepala SPPI SPPG Sampaga Bunde di bawah naungan Yayasan Rangas Batara Berlayar. Dengan laptop penuh stiker di hadapannya, Irsyad bukan hanya memimpin, tapi merangkul.

Bagi Irsyad, terobosan terbesar SPPG Sampaga Bunde bukanlah pada alat masak canggih, melainkan pada cara mereka membangun rasa kekeluargaan antar relawan.

“Kami memulai setiap hari bukan dengan perintah, tapi dengan sapaan. Semua relawan kami anggap keluarga. Ada yang bagian masak sejak pukul 02.00 dini hari, ada yang bagian packing, ada yang distribusi. Tanpa rasa keluarga, mereka tidak akan kuat,” ujar Irsyad.

Setiap hari, sebelum ribuan ompreng meluncur ke sekolah-sekolah di Mamuju, para relawan berkumpul. Saling menyemangati, memastikan higienitas, mengecek takaran gizi yang sudah dihitung oleh ahli gizi, hingga berdoa bersama. Hasilnya, makanan yang sampai ke anak-anak bukan hanya bergizi secara kalori, tapi juga dimasak dengan hati yang tulus.

Di bawah kepemimpinan Irsyad, SPPG Sampaga Bunde yang dikelola Yayasan Rangas Batara Berlayar ini membuktikan bahwa program Badan Gizi Nasional (BGN) bisa berjalan sukses ketika kerja kolektif dibalut dengan empati.

Dari meja kerja inilah, dari laptop sederhana inilah, ribuan senyum anak sekolah di Sampaga Bunde disiapkan setiap harinya.

Satu Dapur, Satu Keluarga, Untuk Gizi Anak Bangsa.

(Zulkifli)