MAMUJU, BKM – Pengangkatan Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional yang baru harus menjadi momentum krusial untuk membenahi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penegasan ini disampaikan oleh Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Sulawesi Barat demi mengawal program strategis pencetak generasi emas tersebut.
Ketua Umum PKC PMII Sulawesi Barat, Asrul Alqausar A., menyatakan bahwa penyegaran kepemimpinan ini merupakan sinyal penting bagi pemerintah untuk segera menjawab berbagai rapor merah di lapangan. Pasalnya, isu keamanan pangan terus mencuat seiring terjadinya kasus keracunan massal yang menimpa para siswa di berbagai wilayah.
“Salah satu yang paling menyita perhatian nasional adalah insiden di Bandung Barat yang berdampak pada sekitar 1.333 siswa, disusul kasus-kasus serupa di daerah lain sepanjang program ini berjalan,” ujar Asrul.
PMII Sulawesi Barat menaruh harapan besar agar nakhoda baru Badan Gizi Nasional berani mengambil langkah radikal. Asrul mendesak pembangunan sistem pengawasan yang jauh lebih ketat, pengetatan standar keamanan pangan, serta pengendalian rantai distribusi yang solid hingga ke tingkat daerah. Seluruh mitra penyedia wajib dipastikan patuh penuh pada prosedur operasi standar (SOP) tanpa kompromi.
Menurut Asrul, MBG pada dasarnya merupakan gagasan mulia untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak bangsa. Namun, indikator keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari megahnya angka statistik penerima manfaat di atas kertas. Parameter utamanya harus bersandar pada jaminan keamanan, mutu makanan, dan keberlanjutan layanan yang diterima masyarakat. Setiap kasus keracunan wajib dijadikan alarm evaluasi total untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Pergantian kepemimpinan ini harus menjadi titik balik perbaikan total di tubuh Badan Gizi Nasional. Kesehatan dan keselamatan peserta didik wajib berada di atas segala target angka maupun capaian administratif,” tegas Asrul menutup pernyataannya.
(Zulkifli)


Tinggalkan Balasan