MAMUJU, BKM – Upaya pemenuhan gizi masyarakat di tingkat akar rumput terus digalakkan secara masif. Bertepatan pada Jumat, 5 Juni 2026, Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Sampaga Bunde yang bekerja sama dengan Yayasan Rangas Batara Berlayar resmi mendistribusikan ratusan paket makanan bergizi gratis yang menyasar kelompok rentan, mulai dari anak sekolah hingga ibu menyusui.

Program yang diinisiasi oleh Badan Gizi Nasional ini menyajikan menu makanan sehat yang dirancang khusus untuk memenuhi standar angka kecukupan gizi harian. Dalam satu porsi nampan yang dibagikan, terdapat kombinasi seimbang yang terdiri dari nasi putih sebagai sumber karbohidrat, abon ayam dan tempe orek sebagai sumber protein, serta dilengkapi sayur acar dan buah semangka segar.

Kepala SPPI, Irsyad Baharuddin, menegaskan bahwa standarisasi porsi di setiap paket dihitung secara cermat oleh ahli gizi demi memastikan efektivitas program intervensi gizi ini.

“Kami tidak hanya sekadar membagikan makanan harian gratis, melainkan memastikan setiap suapan memiliki nilai fungsional yang mendukung tumbuh kembang anak-anak serta menjaga kesehatan ibu hamil dan menyusui di wilayah Sampaga,” ujar Irsyad.

Detail rincian kandungan gizi yang disalurkan dalam program ini meliputi:

  • Balita & Anak TK/PAUD/SD (Kelas 1-3): Mendapatkan asupan 375,25 Kkal energi, 11,82 gram protein, dan 9,21 gram lemak demi menunjang fase awal pertumbuhan kognitif mereka.
  • Siswa SD (Kelas 4-6)/SMP/SMA: Porsi disesuaikan dengan kebutuhan remaja, yakni mengandung 561,24 Kkal energi, 16,38 gram protein, serta 104,45 gram karbohidrat untuk mendukung aktivitas belajar yang padat.
  • Ibu Hamil (Bumil) & Ibu Menyusui (Busui): Kelompok ini menerima porsi tertinggi dengan kandungan 566,76 Kkal energi dan 16,43 gram protein untuk memastikan kualitas ASI dan kesehatan janin tetap optimal.

Kolaborasi aktif antara sektor pelayanan gizi pemerintah dan yayasan seperti Rangas Batara Berlayar diharapkan menjadi pemantik bagi wilayah lain. Dengan komitmen yang konsisten, perbaikan gizi nasional dan pemutusan rantai stunting di Indonesia bukan lagi sekadar target di atas kertas, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat.(Zulkifli)